Minggu, 13 Desember 2009

George Soros; Sang Ekonom Terkaya Di Amerika



Kemarin pada kolom mari mengenal yang lalu, udah ditulis tentang John Maynard Keynes yang dikenal dengan keahliannya dalam bidang ekonom tersebut. Sekarang, P’Mails juga akan memperkenalkan George Soros, keahliannya dalam dunia ekonomi juga patut diacungkan jempol. George Soros dilahirkan pada 12 Agustus 1930 di Budapest, Hungaria. George dilahirkan dari pasangan penulis Esperanto, yaitu Theodoro Schwartz, yang dikenal banyak orang sebagai yahudi asal Hungaria. Dan George pun mengubah nama keluarganya menjadi Soros tepat pada tahun 1936. George menamatkan pendidikan formalnya hingga jenjang paling tinggi di London Schools of Economics ditahun 1952. Ia pun jadi emigrasi berbarengan dengan kepindahannya ditahun 1956. Ia orang Amerika yang mampu menjadi speculator keuangan, investor saham, philanthropist, serta juga ikut berkecimpung diorganisasi politik.
Soros tersohor karena dikenal sebagai orang yang menghancurkan Bank Of England ditahun 1992. Soros melakukan pembelian jangka pendek dari surat berharga di Inggris sebanyak US$ 10 milyar, dan mengkoversi ke Poundsterling. Sebagai akibatnya, suku bunga jadi meningkat lebih dari Negara lain dalam mekanisme nilai tukar eropa, dan akhirnya Bank Of England mendevaluasikan Poundsterlingnya. Tahu nggak, Soros meraup keuntungan sebesar US$ 1,1 Milyar dari kejadian tersebut.
Alhasil, dari kekayaannya yang ditaksir mencapai US$ 8,5 Milyar, Soros dimasukkan ke daftar orang terkaya di Amerika. Majalah Forbes yang telah membuat nama Soros berkibar sampai kemana-mana kala itu. Pendidikan dan kepercayaannya sangat terinfluence oleh para filsuf semisal Karl Popper sewaktu Soros masih menimba ilmu di London School of Economics. Tak pernah lelah, Soros berkomitmen pada konsep filsafat Fallibilisme yang mana menjelaskan mengenai suatu hal yang diyakini pada kenyataan mungkin salah, dank karena hanya terus dipertanyakan dan ditingkatkan atau diperbaiki.
Selain bergiat dalam kesehariannya, Soros juga bergiat sebagai penulis lho. Tulisan-tulisannya yang bernas yang menyorot tentang refleksitas, dimana kondisi individu bisa terlihat ketika memasuki transaksi pasar. Hal tersebut mampu merubah fundamental ekonomi. Nah, mungkin apa yang disampaikan dalam teori Soros nggak asing lagi telinga kita, katanya, transaksi-transaksi biasanya ditandai oleh ketidakseimbangan pasar daripada keseimbangan pasar. Karenanya, hipotesa pasar efisien tidak terjadi pada situasi tersebut. Istilah Soros yang paling populer sepanjang masa adalah ketidakseimbangan dinamis, ketidakseimbangan statis, dan kondisi dekat keseimbangan. Bravo! (Dodi Prananda, SMA Negeri 1 Padang)

N.H Dini ; Sang Novelis Yang Produktif



Tahu nggak novel berjudul Keberangkatan, Sebuah Lorang Di Kotaku, Pada Sebuah Kapal, atau novel Pertemuan Dua Hati? Yups, novel tersebut ditulis oleh seorang penulis wanita Indonesia yang cukup produktif dalam mengeluarkan imajinasi yang ia kemas dalam tulisan fiksi berupa novel bernama Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin. Akan tetapi kita lebih mengenalnya dengan sebuatan N.H Dini. Penulis kelahiran Semarang, Jawa Tengah pada tanggal 29 Februari 1936, artinya sekarang N.H dini sudah berumur 73 tahun.
NH Dini dilahirkan dari pasangan Saljowidjojo dan Kusaminah. Ia anak bungsu dari lima bersaudara, ulang tahunnya dirayakan empat tahun sekali. Masa kecilnya penuh larangan. Konon ia masih berdarah Bugis, sehingga jika keras kepalanya muncul, ibunya acap berujar, “Nah, darah Bugisnya muncul". NH Dini mengaku mulai tertarik menulis sejak kelas tiga SD. Buku-buku pelajarannya penuh dengan tulisan yang merupakan ungkapan pikiran dan perasaannya sendiri. Ia sendiri mengakui bahwa tulisan itu semacam pelampiasan hati. Ibu Dini adalah pembatik yang selalu bercerita padanya tentang apa yang diketahui dan dibacanya dari bacaan Panji Wulung, Penyebar Semangat, Tembang-tembang Jawa dengan Aksara Jawa dan sebagainya. Baginya, sang ibu mempunyai pengaruh yang besar dalam membentuk watak dan pemahamannya akan lingkungan.
Sekalipun sejak kecil kebiasaan bercerita sudah ditanamkan, sebagaimana yang dilakukan ibunya kepadanya, ternyata Dini tidak ingin jadi tukang cerita. la malah bercita-cita jadi supir lokomotif atau masinis. Tapi ia tak kesampaian mewujudkan obsesinya itu hanya karena tidak menemukan sekolah bagi calon masinis kereta api.Kalau pada akhirnya ia menjadi penulis, itu karena ia memang suka cerita, suka membaca dan kadang-kadang ingin tahu kemampuannya. Misalnya sehabis membaca sebuah karya, biasanya dia berpikir jika hanya begini saya pun mampu membuatnya. Dan dalam kenyataannya ia memang mampu dengan dukungan teknik menulis yang dikuasainya.
Dini ditinggal wafat ayahnya semasih duduk di bangku SMP, sedangkan ibunya hidup tanpa penghasilan tetap. Mungkin karena itu, ia jadi suka melamun. Bakatnya menulis fiksi semakin terasah di sekolah menengah. Waktu itu, ia sudah mengisi majalah dinding sekolah dengan sajak dan cerita pendek. Dini menulis sajak dan prosa berirama dan membacakannya sendiri di RRI Semarang ketika usianya 15 tahun. Sejak itu ia rajin mengirim sajak-sajak ke siaran nasional di RRI Jakarta dalam acara Tunas Mekar.


Peraih penghargaan SEA Write Award di bidang sastra dari Pemerintah Thailand ini sudah telajur dicap sebagai sastrawan di Indonesia, padahal ia sendiri mengaku hanyalah seorang pengarang yang menuangkan realita kehidupan, pengalaman pribadi dan kepekaan terhadap lingkungan ke dalam setiap tulisannya. Ia digelari pengarang sastra feminis. Pendiri Pondok Baca NH Dini di Sekayu, Semarang ini sudah melahirkan puluhan karya.

Beberapa karya Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin yang dikenal dengan nama NH Dini, ini yang terkenal, di antaranya Pada Sebuah Kapal (1972), La Barka (1975) atau Namaku Hiroko (1977), Orang-orang Tran (1983), Pertemuan Dua Hati (1986), Hati yang Damai (1998), belum termasuk karya-karyanya dalam bentuk kumpulan cerpen, novelet, atau cerita kenangan.

Bukti keseriusannya dalam bidang yang ia geluti tampak dari pilihannya, masuk jurusan sastra ketika menginjak bangku SMA di Semarang. Ia mulai mengirimkan cerita-cerita pendeknya ke berbagai majalah. Ia bergabung dengan kakaknya, Teguh Asmar, dalam kelompok sandiwara radio bernama Kuncup Berseri. Sesekali ia menulis naskah sendiri. Dini benar-benar remaja yang sibuk. Selain menjadi redaksi budaya pada majalah remaja Gelora Muda, ia membentuk kelompok sandiwara di sekolah, yang diberi nama Pura Bhakti. Langkahnya semakin mantap ketika ia memenangi lomba penulisan naskah sandiwara radio se-Jawa Tengah. Setelah di SMA Semarang, ia pun menyelenggarakan sandiwara radio Kuncup Seri di Radio Republik Indonesia (RRI) Semarang. Bakatnya sebagai tukang cerita terus dipupuk.

Pada 1956, sambil bekerja di Garuda Indonesia Airways (GIA) di Bandara Kemayoran, Dini menerbitkan kumpulan cerita pendeknya, Dua Dunia. Sejumlah bukunya bahkan mengalami cetak ulang sampai beberapa kali - hal yang sulit dicapai oleh kebanyakan buku sastra. Buku lain yang tenar karya Dini adalah Namaku Hiroko dan Keberangkatan. la juga menerbitkan serial kenangan, sementara cerpen dan tulisan lain juga terus mengalir dari tangannya. Walau dalam keadaan sakit sekalipun, ia terus berkarya.

Dini dikenal memiliki teknik penulisan konvensional. Namun menurutnya teknik bukan tujuan melainkan sekedar alat. Tujuannya adalah tema dan ide. Tidak heran bila kemampuan teknik penulisannya disertai dengan kekayaan dukungan tema yang sarat ide cemerlang. Dia mengaku sudah berhasil mengungkapkan isi hatinya dengan teknik konvensional.

Ia mengakui bahwa produktivitasnya dalam menulis termasuk lambat. Ia mengambil contoh bukunya yang berjudul Pada Sebuah Kapal, prosesnya hampir sepuluh tahun sampai buku itu terbit padahal mengetiknya hanya sebulan. Baginya, yang paling mengasyikkan adalah mengumpulkan catatan serta penggalan termasuk adegan fisik, gagasan dan lain-lain. Ketika ia melihat melihat atau mendengar yang unik, sebelum tidur ia tulis tulis dulu di blocknote dengan tulis tangan.

Pengarang yang senang tanaman ini, biasanya menyiram tanaman sambil berpikir, mengolah dan menganalisa. la merangkai sebuah naskah yang sedang dikerjakannya. Pekerjaan berupa bibit-bibit tulisan itu disimpannya pada sejumlah map untuk kemudian ditulisnya bila sudah terangkai cerita.Dini dipersunting Yves Coffin, Konsul Prancis di Kobe, Jepang, pada 1960. Dari pernikahan itu ia dikaruniai dua anak, Marie-Claire Lintang (kini 42 tahun) dan
Pierre Louis Padang (kini 36 tahun). Anak sulungnya kini menetap di Kanada, dan anak bungsunya menetap di Prancis. Sebagai konsekuensi menikah dengan seorang diplomat, Dini harus mengikuti ke mana suaminya ditugaskan. Ia diboyong ke Jepang, dan tiga tahun kemudian pindah ke Pnom Penh, Kamboja. Kembali ke negara suaminya, Prancis, pada 1966, Dini melahirkan anak keduanya pada 1967. Selama ikut suaminya di Paris, ia tercatat sebagai anggota Les Amis dela Natura (Green Peace). Dia turut serta menyelamatkan burung belibis yang terkena polusi oleh tenggelamnya kapal tanker di pantai utara Perancis.

Setahun kemudian ia mengikuti suaminya yang ditempatkan di Manila, Filipina. Pada 1976, ia pindah ke Detroit, AS, mengikuti suaminya yang menjabat Konsul Jenderal Prancis. Dini berpisah dengan suaminya, Yves Coffin pada 1984, dan mendapatkan kembali kewarganegaraan RI pada 1985 melalui Pengadilan Negeri Jakarta.

Mantan suaminya masih sering berkunjung ke Indonesia. Dini sendiri pernah ke Kanada ketika akan mengawinkan Lintang, anaknya. Lintang sebenarnya sudah melihat mengapa ibunya berani mengambil keputusan cerai. Padahal waktu itu semua orang menyalahkannya karena dia meninggalkan konstitusi perkawinan dan anak-anak. Karena itulah ia tak memperoleh apa-apa dari mantan suaminya itu. Ia hanya memperoleh 10.000 dollar AS yang kemudian digunakannya untuk membuat pondok baca anak-anak di Sekayu, Semarang.

Dini yang pencinta lingkungan dan pernah ikut Menteri KLH Emil Salim menggiring Gajah Lebong Hitam, tampaknya memang ekstra hati-hati dalam memilih
pasangan setelah pengalaman panjangnya bersama diplomat Perancis itu. la pernah jatuh bangun, tatkala terserang penyakit 1974, di saat ia dan suaminya sudah pisah
tempat tidur. Kala itu, ada yang bilang ia terserang tumor, kanker. Namun sebenarnya kandungannya amoh sehingga blooding, karena itu ia banyak kekurangan
darah. Secara patologi memang ada sel asing. Kepulangannya ke Indonesia dengan tekad untuk menjadi penulis dan hidup dari karya-karyanya, adalah suatu
keberanian yang luar biasa. Dia sendiri mengaku belum melihat ladang lain, sekalipun dia mantan pramugrari GIA, mantan penyiar radio dan penari. Tekadnya hidup
sebagai pengarang sudah tak terbantahkan lagi.

Mengisi kesendiriannya, ia bergiat menulis cerita pendek yang dimuat berbagai penerbitan. Di samping itu, ia pun aktif memelihara tanaman dan mengurus pondok
bacanya di Sekayu. Sebagai pencinta lingkungan, Dini telah membuat tulisan bersambung di surat kabar Sinar Harapan yang sudah dicabut SIUPP-nya, dengan tema
transmigrasi.

Menjadi pengarang selama hampir 60 tahun tidaklah mudah. Baru dua tahun terakhir ini, ia menerima royalti honorarium yang bisa menutupi biaya hidup sehari-hari.
Tahun-tahun sebelumnya ia mengaku masih menjadi parasit. Ia banyak dibantu oleh teman-temannya untuk menutupi biaya makan dan pengobatan.

Tahun 1996-2000, ia sempat menjual-jual barang. Dulu, sewaktu masih di Prancis, ia sering dititipi tanaman, kucing, hamster, kalau pemiliknya pergi liburan. Ketika
mereka pulang, ia mendapat jam tangan dan giwang emas sebagai upah menjaga hewan peliharaan mereka. Barang-barang inilah yang ia jual untuk hidup sampai
tahun 2000.

Dini kemudian sakit keras, hepatitis-B, selama 14 hari. Biaya pengobatannya dibantu oleh Gubernur Jawa Tengah Mardiyanto. Karena ia sakit, ia juga menjalani
USG, yang hasilnya menyatakan ada batu di empedunya. Biaya operasi sebesar tujuh juta rupiah serta biaya lain-lain memaksa ia harus membayar biaya total sebesar
11 juta. Dewan Kesenian Jawa Tengah, mengorganisasi dompet kesehatan Nh Dini. Hatinya semakin tersentuh ketika mengetahui ada guru-guru SD yang ikut
menyumbang, baik sebesar 10 ribu, atau 25 ribu. Setelah ia sembuh, Dini, mengirimi mereka surat satu per satu. Ia sadar bahwa banyak orang yang peduli
kepadanya. Sejak 16 Desember 2003, ia kemudian menetap di Sleman, Yogyakarta. Ia yang semula menetap di Semarang, kini tinggal di kompleks Graha Wredha
Mulya, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta. Kanjeng Ratu Hemas, istri Sultan Hamengku Buwono X yang mendengar kepindahannya, menyarankan Dini membawa
serta perpustakaannya. Padahal empat ribu buku dari tujuh ribu buku perpustakaannya, sudah ia hibahkan ke Rotary Club Semarang.

Alhasil, Dini di Yogya tetap menekuni kegiatan yang sama ia tekuni di Semarang, membuka taman bacaan. Kepeduliannya, mengundang anak-anak di lingkungan
untuk menyukai bacaan beragam bertema tanah air, dunia luar, dan fiksi. Ia ingin anak-anak di lingkungannya membaca sebanyak-banyaknya buku-buku dongeng,
cerita rakyat, tokoh nasional, geografi atau lingkungan Indonesia, cerita rekaan dan petualangan, cerita tentang tokoh internasional, serta pengetahuan umum. Semua
buku ia seleksi dengan hati-hati. Jadi, Pondok Baca Nh Dini yang lahir di Pondok Sekayu, Semarang pada 1986 itu, sekarang diteruskan di aula Graha Wredha
Mulya. Ia senantiasa berpesan agar anak-anak muda sekarang banyak membaca dan tidak hanya keluyuran. Ia juga sangat senang kalau ada pemuda yang mau jadi
pengarang, tidak hanya jadi dokter atau pedagang. Lebih baik lagi jika menjadi pengarang namun mempunyai pekerjaan lain.

Dalam kondisinya sekarang, ia tetap memegang teguh prinsip-prinsip hidupnya. Ia merasa beruntung karena dibesarkan oleh orang tua yang menanamkan
prinsip-prinsip hidup yang senantiasa menjaga harga diri. Mungkin karena itu pulalah NH Dini tidak mudah menerima tawaran-tawaran yang mempunyai nilai
manipulasi dan dapat mengorbankan harga diri.

Ia juga pernah ditawari bekerja tetap pada sebuah majalah dengan gaji perbulan. Akan tetapi dia memilih menjadi pengarang yang tidak terikat pada salah satu
lembaga penerbitan. Bagi Dini, kesempatan untuk bekerja di media atau perusahaan penerbitan sebenarnya terbuka lebar. Namun seperti yang dikatakannya, ia takut
kalau-kalau kreativitasnya malah berkurang. Untuk itulah ia berjuang sendiri dengan cara yang diyakininya; tetap mempertahankan kemampuan kreatifnya.

Menyinggung soal seks, khususnya adegan-adegan yang dimunculkan dalam karya-karyanya, ia menganggapnya wajar-wajar saja. Begitulah spontanitas penuturan
pengarang yang pengikut kejawen ini. la tak sungkan-sungkan mengungkapkan segala persoalan dan kisah perjalanan hidupnya melalui karya-karya yang ditulisnya

NAMA PARA PEMENANG LOMBA MENULIS CERPEN REMAJA (LMCR-2009)




KATEGORI B (Pelajar SLTA)
Pemenang Utama
Pemenang 1
Judul karya: SATYAM EVA JAYATE
Karya Vanesa Martida – Siswi SMAN 5 Denpasar Bali
Hadiah untuk Pemenang: Uang tunai Rp 5.000.000,- + LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD dan Buku Kumpulan Karya Beberapa Pemenang LMCR-2009 Hadiah untuk SMAN 5 Denpasar Bali: 1 (Satu) Unit Televisi
Pemenang 2
Judul karya: KALI INI AKU MENYERAH
Karya Disti Utami Resdiaputri – Siswi SMAN I Jampangkulon Kab. Sukabumi Jawa Barat
Hadiah untuk Pemenang: Uang tunai Rp 4.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN dan Buku Kumpulan Karya Beberapa Pemenang LMCR-2009 Hadiah untuk SMAN 1 Jampangkulon Kab. Sukabumi: 1 (Satu) Unit Televisi
Pemenang 3
Judul karya: BOCAH BAWAH POHON BAWAH HUJAN
Karya Apriliani Indri Hapsari - Siswi SMAN 1 Magelang Jawa Tengah
Hadiah untuk Pemenang: Uang tunai Rp 3.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN dan Buku Kumpulan Karya Beberapa Pemenang LMCR-2009 Hadiah untuk SMAN 1 Magelang: 1 (Satu) Unit Televisi
5 (Lima) Pemenang Harapan Utama
• Judul karya: BULAN BERCERMIN
Karya Wuri Kinanti – Siswi SMAK Xaverius 1 Palembang Sumatera Selatan
• Judul karya: CERMIN
Karya Fathia Rahmah Nurul Husna - Siswi MA Muhammdiyah 5 Yogyakarta
• Judul karya: REAL FK
Karya Yusrianti Noor – Siswi SMAN 2 Sekayu MUBA Sumatera Selatan
• Judul karya: PINISI KOTA DAENG
Karya Jumliana – Siswi SMAN I Labakkang Kab. Pangkep Sulawesi Selatan
• Judul karya: LENTERA TANPA CAHAYA
Karya Meivita Sarah Devianti – SMAN 8 Jakarta
Masing-masing pemenang mendapat uang tunai Rp 1.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN dan Buku Kumpulan Karya Beberapa Pemenang LMCR-2009
10 (Sepuluh) Pemenang Harapan
1. Judul karya: SYARIFAH YA SYARIFAH
Karya Irvan Wira Adhitya – Siswa SMAN 1 Pekanbaru
2. Judul karya: SURAU DI TEPIAN SUNGAI
Karya Ifa Nur Wijayanti – Siswi SMAN 1 Sewon Bantul Yogyakarta
3. Judul karya: CIREMAI I’M IN LOVE
Karya Nabilah – Siswi SMAN 7 Cirebon Jawa Barat
4. Judul karya: DI BALIK DENTUMAN GENDANG BELEQ
Karya Yunita - Siswi SMAN 4 Praya Lombok Tengah NTB
5. Judul karya: SEJUTA HARAPAN DI LAUT BIRU
Karya Siti Rahmah – Siswi Ponpes Daarul Hikmah Air Batu Kab. Asahan
6. Judul karya: KUPILIH DI SURGA SENDIRI
Karya Nikmaturrohmah – Siswi MAN I Purwokerto Jawa Tengah
7. Judul karya: BUNGA DALAM BUI
Karya Mulia Wita – Siswi SMAN 26 Jakarta
8. Judul karya: AKU DAN SANG KORUPTOR
Karya Eni Rahmawati – Siswi SMA Muhammadiyah 01 Gresik Jawa Timur
9. Judul karya: MENANTI IBU
Karya Dodi Prananda – Siswa SMAN 1 Padang Sumatera Barat
10. Judul karya: LAILATUL QADAR
Karya Arnold Warembengan – Siswa SMAK Santo Yoseph Denpasar Bali
Masing-masing pemenang mendapat hadiah Piagam LIP ICE-SELSUN, Bingkisan dari PT ROHTO Laboratories Indonesia dan Buku Kumpulan Karya Beberapa Pemenang LMCR-2009
28 (DUA PULUH DELAPAN ) PEMENANG KARYA FAVORIT
1. Judul karya: PUDAR DI LOVINA
Karya Putu Hediarta Widiana Putra – Siswa SMAN 5 Denpasar Bali
2. Judul karya: SOTO AYAM
Karya Venny TR – Siswi SMK 6 Yogyakarta
3. Judul karya: TAK SELAMANYA SAHABAT
Karya Nurul Muthiah – Siswi SMAN 2 Palu Sulawesi Tenggara
4. Judul karya: BAPAK
Karya Yullianto – Siswa SMAK BPK Penabur Gading Serpong Tangerang
5. Judul karya: ANDAI KELUARGA ADALAH ISTANA
Karya Betty Gusmida – Siswi SMAN 2 Lubuk Basung Sumatera Barat
6. Judul karya: BUTA
Karya Farahdilla Permana – Siswi SMAN 6 Bandung Jawa Barat
7. Judul karya: PINUS
Karya Nurul Aisyah – Siswi SMAN 1 Garut Jawa Barat
8. Judul karya: DALAM BAYANGAN HUJAN
Karya Anissa Florence Oktna Basami Pardede – Siswi SMAN 4 Pekanbaru
9. Judul karya: AKU INGIN SEPERTI ROMO
Karya Daniel Hermawan – Siswa SMAK I PBK Penabur Bandung Jawa Barat
10. Judul karya: DI BALIK PAHATAN KAYU
Karya Rizky Ika Nahdiah – Siswi SMA Semesta Semarang Jawa Tengah
11. Judul karya: PENGAJIAN CINTA
Karya Muryaning – Siswi MA NU Nurul Ulum Kudus Jawa Tengah
12. Judul karya: PENTAS SEBUAH HATI
Karya Rosa Virjinia – Siswi SMAN 1 Surabaya Jawa Timur
13. Judul karya: PANGERAN HUJAN
Karya Afina Iskandar – Siswi SMAN 20 Bandung Jawa Barat
14. Judul karya: EDELWEIS EDELWEIS
Karya Sri Mulyati – Siswi SMAN 1 Pasuruan Jawa Timur
15. Judul karya: MAWAR PENTAGON
Karya Mega Shatila – Siswi SMAN 2 Sekayu MUBA Sumatera Selatan
16. Judul karya: KISAH DILLA
Karya Adelheid Bethany NS – Siswi SMA Regina Pacis Ursulin Surakarta
17. Judul karya: PADA SURAT YANG DIBACA SENJA
Karya Aveline Agrippina Tando – Siswi SMAK 4 BPK Penabur Jakarta
18. Judul karya: DETIK-DETIK TERAKHIR
Karya Melita Juswadi – SMA 1 Ricci Jakarta
19. Judul karya: KUPU-KUPU LIAR
Karya Rosawati – Siswi SMAN 7 Cirebon Jawa Barat
20. Judul karya: KEGELAPAN DALAM CITA RASA
Karya Debby Elysenty – Siswi SMAN 1 Sungailiat Kab. Bangka Kep. Babel
21. Judul karya: CANDIK ALA
Karya Colley Windya Tyas Buwana – Siswa SMAN 3 Yogyakarta
22. Judul karya: KARENA DIRINYA SEORANG IBU
Karya Calsy – Siswi SMA WR Supratman 1 Medan Sumatera Utara
23. Judul karya: HARI TERAKHIR, HARI TERINDAH
Karya Christian Tricaesario – Siswa SMAK Santa Ursula BSD Tangerang
24. Judul karya: DI BALIK TUBUH PENDEK
Karya Yohana Apfianis – Siswi SMAK Xaverius 1 Palembang Sumatera Selatan
25. Judul karya: HIDUPMU INDAH, LUNA
Karya Gigay Citta Acikbeng – Siswi SMA Semesta Semarang
26. Judul karya: BUS
Karya Qotrun Nada Haroen – Siswi SMAN 1 Magelang Jawa Tengah
27. Judul karya: DIA MENGHILANG UNTUK KEMBALI
Karya Nur Awalia Maharani – Siswi Ponpes Modern Putri IMMIM Minasate’ne Pangkep Sulawesi Selatan
28. Judul karya: PENYAKIT ITU BERNAMA PUTUS ASA
Karya Noval Kurniadi - Siswa MA Al-Falah Jakarta Barat
Masing-masing pemenang mendapat hadiah Piagam LIP ICE-SELSUN dan Buku Kumpulan Karya Beberapa Pemenang LMCR-2009

Ayo, Ikuti Festival Nasyid 2009

Pekan Kreativitas Siswa (PKS) V yang diselenggarakan Senin mendatang juga akan dimeriahkan oleh salah satu even terbesar PKS yaitu Festival Nasyid Antar SLTA/Sederajat Se-Kota Padang. Festival Nasyid tersebut akan diselenggarakan pada, Jumat (18/12) mendatang berbarengan dengan serangkaian kegiatan PKS lainnya.

Reza Hidayat selaku ketua pelaksana Fesyid (Ketua Bidang 1 OSIS SMA Negeri 1 Padang-red) yang ditemui reporter, Jumat, (11/12) malam dikediamannya,mengatakan bahwa tujuan dari Festival Nasyid adalah memberikan apresiasi terhadap musik-musik islam agar peminat musik islam atau musik nasyid lebih meningkat, menambah pengetahuan siswa terhadap musik-musik islam yang jumlahnya saat ini tak banyak, meningkatkan kecintaan seluruh pelajar dikalangan remaja muslim untuk mengandrungi musik-musik islam

Reza yang akrab disapa Ejak ini juga menambahkan bahwa misi utama yang diemban dalam penyelenggaraan Festival Nasyid yaitu media dakwah lewat jalur seni khususnya musik yang saat ini banyak digadrungi para reaja disamping juga menyemarakkan tahun baru islam.

Menurut keterangan dari Ejak, festival akan diadakan pada pukul 09.00 Wib di Gedung Sasana Karya Jl.Jendral Sudirman No. 29 Padang. Adapun ketentuan dalam Festival Nasyid tersebut antara lain setiap sekolah mengutus satu tim nasyid dan boleh lebih, pendaftaran dibuka semenjak seminggu yang lewat sampai tanggal 17 Desember 2009, peserta akan membawakan dua lagu ; satu wajib dan satu bebas, peserta dalam satu grup maksimal 6 orang, setiap peserta jika ingin menggunakan gitar, diwajibkan menggunakan gitar akustik. Tidak dibenarkan putra dan putri bergabung dalam satu grup. Adapun lagu-lagu wajib yang akan dibawakan pada festival nasyid tersebut antara lain Rindu Rasul (Bimbo), Sajadah Panjang (Bimbo), Lailatul Qadar (Gigi), Cahaya Hati (Opick), Padamu Kubersujud (Afgan), KebesaranMU (ST 12), Demi Matahari (Senada), We Will Not Go Down (Michele Heart), Bunda (Melly), Tuhan (Bimbo), Allah Maha Melihat (Opick), Satu Rindu (Opick). Sedangkan lagu bebasnya menurut penuturan Ejak, peserta diperbolehkan membawakan lagu apapun namun tetap berisikan dan memiliki nilai-nilai anjuran, teguran, dan ajakan yang bersifat positif.

Aku Ejak pada www.inioke.com, surat undangan sudah dikirim ke semua sekolah. Peserta bisa menghubungi kontak person; Reza Hidayat ( 085263778439), Kiki Amelia (085263372645), dan Olfa Resha (085289857781). (Dodi Prananda)